BRMP Jawa Barat Bekali Peternak Garut Pengelolaan Limbah Bernilai Ekonomi
Garut — Limbah peternakan tidak selalu menjadi persoalan lingkungan. Melalui pengelolaan yang tepat, kotoran ternak, urin, dan sisa pakan dapat diolah menjadi pupuk organik maupun sumber energi alternatif berupa biogas. Pemanfaatan tersebut menjadi salah satu fokus Bimbingan Teknis (Bimtek) Competitive Grant (CG) yang diselenggarakan Pusat Perakitan dan Modernisasi Peternakan dan Kesehatan Hewan (BRMP PKH) di Kampung Barukay, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, pada 25–26 Oktober 2026.
Kegiatan ini melibatkan BRMP Jawa Barat, Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Garut, serta narasumber dari pihak terkait untuk memberikan pembekalan mengenai pengelolaan limbah, manajemen pemeliharaan, budidaya, pakan, dan kesehatan ternak. Sebanyak 50 peserta dari Kecamatan Cisurupan tercantum dalam undangan kegiatan yang bertujuan meningkatkan kemampuan peternak dalam menerapkan praktik peternakan yang baik dan berkelanjutan.
Pada sesi pertama, Minggu (25/10), BRMP Jawa Barat melalui Wawan Wahyudin membawakan materi manajemen limbah peternakan. Materi tersebut menekankan pentingnya penanganan limbah sejak dari kandang, terutama untuk mencegah timbulnya bau tidak sedap, peningkatan populasi lalat, serta risiko pencemaran sumber air di sekitar lingkungan peternakan.
Pengelolaan limbah dapat dimulai melalui langkah sederhana, seperti penyediaan saluran pembuangan menuju bak penampungan, perlindungan tempat penampungan dari air hujan, serta penggunaan mikroorganisme pengurai atau dekomposer. Penanganan tersebut diperlukan agar limbah tidak langsung terbuang ke lingkungan dan dapat dimanfaatkan kembali.
Salah satu pemanfaatan yang diperkenalkan adalah pengolahan kotoran ternak menjadi pupuk organik. Dalam materi yang disampaikan, proses pengomposan menggunakan bahan seperti kotoran ternak, sekam, dolomit, dekomposer, molase, dan air. Bahan-bahan tersebut diolah melalui proses dekomposisi dengan memperhatikan kelembapan, suhu, dan pembalikan bahan secara berkala.
Wawan juga menguraikan pentingnya perbandingan karbon dan nitrogen atau rasio C/N dalam proses pengomposan. Rasio C/N bahan yang ideal untuk proses tersebut berkisar antara 20–30. Semakin tinggi rasionya, semakin lama waktu yang diperlukan untuk penguraian. Kompos yang telah matang memiliki karakteristik warna cokelat kehitaman, tidak berbau menyengat, serta suhu yang kembali mendekati kondisi lingkungan.
Selain membantu mengurangi pencemaran, hasil pengolahan limbah berupa pupuk organik dapat digunakan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pupuk organik dapat dimanfaatkan pada lahan pertanian, media persemaian, maupun kegiatan budidaya tanaman lainnya. Bagi peternak, pengolahan limbah juga membuka peluang untuk menghasilkan produk bernilai tambah yang dapat dimanfaatkan sendiri atau dikembangkan menjadi usaha.
Pembahasan mengenai pemanfaatan limbah turut dilengkapi materi pengolahan kotoran ternak menjadi biogas oleh Renita Sari, S.Pt., M.Sc., IPM dari PT Swen. Penggunaan biogas menjadi salah satu alternatif pemanfaatan limbah peternakan sebagai sumber energi, sehingga pengelolaan limbah tidak hanya diarahkan pada produksi pupuk organik.
Dalam rangkaian kegiatan hari pertama, panitia juga menjadwalkan penandatanganan prasasti peresmian Kandang Domba Modern Terintegrasi di lokasi Competitive Grant PKH.
Bimbingan teknis berlanjut pada Senin (26/10) malam dengan pembahasan peningkatan manajemen, budidaya, pakan, dan kesehatan ternak. Materi manajemen, budidaya, dan kesehatan ternak dijadwalkan disampaikan oleh Endin, S.Pt., sedangkan pengelolaan dan pemberian pakan ternak menjadi materi Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Garut.
Melalui pembekalan ini, peternak diharapkan mampu menerapkan pengelolaan usaha yang lebih baik, mulai dari pemeliharaan dan pemenuhan kebutuhan ternak hingga pemanfaatan limbah hasil peternakan. Pengolahan limbah menjadi pupuk organik dan biogas juga dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi dampak lingkungan sekaligus meningkatkan nilai guna hasil samping usaha peternakan.