BRMP Jawa Barat Gelar Konsolidasi dan Bimtek PM-AAS bagi Penyuluh Pertanian Kabupaten Garut
Garut, 3 September 2026 – Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Jawa Barat (BRMP Jawa Barat) menggelar Rapat Konsolidasi dan Bimbingan Teknis Teknologi Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) bagi penyuluh pertanian Kabupaten Garut di Aula Taman Teknologi Pertanian (TTP) Cikandang, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Kamis (3/9/2026).
Kegiatan ini dilaksanakan untuk mempercepat perluasan penerapan PM-AAS dengan melibatkan pemangku kepentingan di Kabupaten Garut. Forum juga diarahkan sebagai ruang sosialisasi dan diseminasi teknologi pertanian serta konsolidasi data realisasi dan rencana Luas Tambah Tanam (LTT) hingga Desember 2026.
Kegiatan diikuti Ketua Tim Kerja, Koordinator Penyuluh, dan penyuluh pertanian se-Kabupaten Garut. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut pada kesempatan tersebut diwakili oleh Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Dedi, S.H., M.P. Rangkaian pembukaan dilanjutkan dengan arahan Kepala BRMP Jawa Barat, Dr. Detia Tri Yunandar, S.P., M.Si.
Dalam arahannya, Detia menempatkan pangan sebagai bagian yang memiliki pengaruh luas terhadap berbagai sendi kehidupan. Menurutnya, persoalan pangan tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan masyarakat, tetapi berkaitan dengan kondisi sosial, ekonomi, hingga politik.
“Semua aspek, mulai dari sosial, ekonomi, sampai ke politik,” ujar Detia.
Ia menegaskan bahwa pangan menjadi salah satu unsur yang ikut menentukan kestabilan negara. Karena itu, upaya menjaga produksi pangan perlu ditempatkan sebagai pekerjaan bersama yang membutuhkan dukungan program, teknologi, sumber daya, dan koordinasi antarpihak.
Pembahasan kemudian dilanjutkan melalui materi “Tantangan dan Strategi Pengembangan PM-AAS di Wilayah Jawa Barat” oleh Ir. Nandang Sudrajat, M.M., Tenaga Ahli Menteri Pertanian Republik Indonesia. Materi tersebut menjadi salah satu pembahasan utama untuk melihat posisi PM-AAS dalam upaya peningkatan produksi dan intensifikasi pertanian di Jawa Barat.
Nandang menekankan bahwa pencapaian swasembada pangan berkelanjutan tidak dapat dilakukan oleh Kementerian Pertanian seorang diri. Penerapannya membutuhkan kerja bersama karena persoalan pertanian di lapangan bersinggungan dengan kewenangan dan dukungan berbagai kementerian, lembaga, pemerintah daerah, hingga pengelola sumber daya air.
“Pak, Bu, bisa tercapainya swasembada pangan berkelanjutan itu tidak bisa dicapai oleh hanya Kementerian Pertanian,” ujarnya.
Menurut Nandang, penerapan PM-AAS juga berhadapan dengan sejumlah tantangan, antara lain kebutuhan koordinasi antarpihak, degradasi tanah sawah, perubahan kondisi iklim, serta ketersediaan air. Dalam konteks tersebut, penyuluh memiliki posisi penting karena menjadi pihak yang berhadapan langsung dengan kondisi pertanaman di setiap wilayah.
Ia meminta agar informasi mengenai kekeringan, potensi tanam, dan kondisi sumber air tidak berhenti pada laporan angka. Data perlu ditelusuri sampai tingkat kecamatan dan blok, kemudian dilengkapi dengan kondisi lapangan sehingga persoalan dan kebutuhan intervensinya dapat diketahui secara lebih tepat.
Nandang juga mendorong agar data LTT dipertemukan dengan informasi daerah irigasi dan kewenangan pengelolaannya. Jika suatu wilayah berada pada kewenangan provinsi, kabupaten, maupun pengelola sumber daya air lainnya, pihak terkait perlu dilibatkan agar potensi pertanaman dapat dihitung berdasarkan ketersediaan air yang benar-benar dapat dimanfaatkan.
“Saya sarankan, sekarang bikin tim yang terintegrasi,” kata Nandang.
Tim tersebut diarahkan melibatkan penyuluh, BRMP, serta pihak pengelola sumber daya air untuk menyandingkan data pertanaman dengan kondisi irigasi dan sumber air. Menurutnya, hasil identifikasi sebaiknya dituangkan dalam bentuk matriks dan informasi spasial agar kondisi setiap kecamatan dapat dibaca dengan lebih mudah sekaligus menjadi dasar pencarian solusi.
Nandang menilai hasil penerapan PM-AAS di sejumlah lokasi telah memberikan gambaran awal yang menjanjikan sebagai salah satu upaya intensifikasi pertanian. Namun, ia mengingatkan agar peningkatan produksi tetap mempertimbangkan kondisi tanah dan daya dukung lingkungan.
“Dari sisi hasil pilot project yang sudah dilakukan, PM-AAS memberikan harapan kepada kita sebagai salah satu ikhtiar intensifikasi ke depan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa keberlanjutan tidak hanya berbicara mengenai hasil pada satu musim tanam. Kemampuan lahan untuk tetap memberikan manfaat bagi generasi berikutnya perlu menjadi bagian dari penerapan teknologi pertanian.
“Berkelanjutan itu adalah anak cucu kita, generasi yang akan datang, harus sama-sama bisa menikmati manfaat dari sawah dengan produktivitas yang tinggi,” tutur Nandang.
Dukungan sumber daya air turut menjadi bagian dalam pembahasan PM-AAS. Sesi mengenai potensi dan ketersediaan air menekankan perlunya mempertemukan ketersediaan air dengan kebutuhan yang ada sebelum menentukan ruang pengembangan pertanaman. Dalam pengelolaan sumber daya air, pemanfaatan air juga perlu mempertimbangkan keseimbangan antara suplai, kebutuhan, serta keberlanjutan pemanfaatannya.
Konsolidasi selanjutnya dilakukan bersama Koordinator Penyuluh se-Kabupaten Garut dengan membuka data realisasi LTT reguler, oplah, padi gogo, dan PM-AAS periode April hingga Agustus 2026 serta rencana tanam September hingga Desember 2026. Data tersebut menjadi bahan untuk melihat kembali potensi pertanaman sekaligus kendala yang dihadapi masing-masing wilayah. Peserta memang diminta membawa data tersebut sebagai bahan konsolidasi dalam kegiatan.
Melalui konsolidasi tersebut, penyuluh didorong tidak hanya menyampaikan luas potensi tanam, tetapi juga memberikan penjelasan terhadap kondisi yang menyebabkan suatu wilayah dapat atau belum dapat ditanami. Informasi mengenai sumber air, kondisi irigasi, maupun kebutuhan intervensi selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan koordinasi dengan pihak yang memiliki kewenangan.
Pada sesi berikutnya, Dr. Tri Hastini, S.P., M.Si. dari BRMP Jawa Barat menyampaikan materi mengenai Teknologi Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) dan Pembuatan Drum Seeder. Sesi ini melengkapi pembahasan konsolidasi dengan penguatan pemahaman teknis penyuluh terhadap teknologi yang mendukung penerapan PM-AAS.
Pembahasan teknis bersama Tri Hastini selanjutnya dapat menjadi bekal penyuluh dalam mendampingi penerapan teknologi di tingkat petani. Materi mengenai teknologi PM-AAS dan drum seeder akan dikembangkan lebih lanjut dalam pemberitaan tersendiri agar aspek teknis penerapannya dapat disampaikan secara lebih lengkap.
Rangkaian kegiatan diakhiri dengan diskusi dan evaluasi pemahaman peserta. Melalui forum tersebut, BRMP Jawa Barat bersama Dinas Pertanian Kabupaten Garut, penyuluh, serta pemangku kepentingan terkait berupaya mempertemukan data pertanaman, kesiapan wilayah, ketersediaan air, dan teknologi sebagai dasar penguatan penerapan PM-AAS di Kabupaten Garut.