Menuju Keberlanjutan ICARE, BRMP Jawa Barat Perkuat Kemitraan Publik-Swasta di Garut
Menuju Keberlanjutan ICARE, BRMP Jawa Barat Perkuat Kemitraan Publik-Swasta di Garut
Garut — Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jawa Barat terus memperkuat keberlanjutan Program Integrated Corporation of Agricultural Resources Empowerment (ICARE) melalui pengembangan kemitraan antara pemerintah, koperasi, dan pelaku usaha. Upaya tersebut diwujudkan melalui Workshop Multi-Stakeholder Partnership (MSP) bertema “Implementasi Kolaborasi Publik–Swasta dalam Rangka Penguatan Rantai Nilai untuk Komoditas Kentang dan Domba di Kabupaten Garut”, Selasa (8/9), di Aula Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Garut.
Workshop merupakan bagian dari Komponen A.1.d Pengembangan Platform Pemangku Kepentingan Publik-Swasta ICARE. Platform ini dikembangkan sebagai wadah koordinasi dan kolaborasi antarpemangku kepentingan untuk mendorong perencanaan dan aksi bersama, sekaligus memperkuat investasi serta proses bisnis yang mendukung pengembangan kawasan pertanian.
Kepala BRMP Jawa Barat, Dr. Detia Tri Yunandar, S.P., M.Si., mengatakan penguatan jejaring kemitraan menjadi bagian penting dari exit strategy ICARE menjelang berakhirnya program pada 2027. Menurutnya, berbagai kelembagaan, proses bisnis, dan jejaring yang telah dibangun perlu dipastikan tetap berjalan setelah dukungan program selesai.
“Pada intinya, kita harus memastikan bahwa apa yang sudah kita bangun ini tidak berhenti ketika memang program ICARE ini selesai,” ujar Detia.
Ia menjelaskan, keberlanjutan tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai unsur melalui pendekatan kolaboratif, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, koperasi, masyarakat, pelaku usaha, institusi pendidikan, hingga media. Akses pasar, pembiayaan, inovasi teknologi, dan digitalisasi menjadi bagian yang perlu diperkuat agar koperasi dapat melanjutkan usaha secara mandiri.
“Mandiri dalam arti, ya, tidak sendiri. Tetap nanti tentu akan ada pendampingan-pendampingan, tetap nanti akan ada upaya-upaya kolaboratif,” tambahnya. Dalam sambutannya, Detia juga menekankan bahwa hasil dan pengalaman yang diperoleh selama pelaksanaan ICARE dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lain dalam pengembangan kebijakan maupun program lanjutan.
Pengembangan platform publik-swasta ICARE Jawa Barat telah menghasilkan sejumlah capaian konkret. Hingga Agustus 2026, tercatat 10 dokumen kerja sama kemitraan pada 2025 dan tiga dokumen pada 2026. Selain itu, sebanyak 16 calon mitra telah teridentifikasi dan berada dalam proses penjajakan maupun penandatanganan kerja sama. Program ini juga telah mengidentifikasi lima potensi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berupa dua merek/rahasia dagang dan tiga paten.
ICARE di Jawa Barat mengembangkan koperasi yang bergerak pada rantai usaha kentang dan Domba Garut, antara lain Eptilu Membangun Indonesia (EMI), Cikajang Agro Prakarsa (CAP), Sukaresmi Mulus Rahayu (SMR), Horti Agro Makmur (HAM), Putra Cisurupan Berdaya (PCB), Peternak Cikal Maju (PCM), serta Rasana Rasyidah Mandiri (RRM). Unit usahanya mencakup pembibitan dan budidaya kentang, penyediaan sarana produksi dan jasa alsintan, pemasaran hasil, hingga pembibitan, penggemukan, pakan, dan pengolahan produk domba.
Penguatan kolaborasi pada workshop juga ditandai dengan penandatanganan dokumen kerja sama. BRMP Jawa Barat memperkuat kerja sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Garut, serta Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Garut. Pada tingkat koperasi dan mitra usaha, kerja sama antara lain dilakukan oleh Cikajang Agro Prakarsa (CAP) dengan CV Bumi Agro Technology, Eptilu Membangun Indonesia dengan PT Pupuk Kujang, serta Horti Agro Makmur dengan CV Bumi Agro Technology. Kemitraan tersebut melengkapi kerja sama yang telah lebih dahulu dikembangkan, termasuk dengan AIMS dan Agritera.
Dalam pemetaan kemitraan ICARE, CV Bumi Agro Technology diarahkan pada produksi benih kentang bersama CAP serta penyediaan benih dan pendampingan produksi kentang industri bersama HAM. Sementara itu, kerja sama Eptilu dengan PT Pupuk Kujang mencakup pendampingan teknis, suplai agro input, dan edukasi anggota koperasi.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Ardhy Firdian, S.Hut., M.Si., menyampaikan bahwa keberhasilan pengembangan usaha tidak dapat dilepaskan dari keterhubungan setiap mata rantai, mulai dari produksi, kualitas pasokan, pendampingan teknologi, pembiayaan, penguatan kelembagaan, hingga kepastian pasar.
“Kolaborasi ini menjadi momentum yang sangat berharga, di mana masing-masing pihak akan memberikan perannya sendiri-sendiri,” ujarnya. Pemerintah, pelaku usaha, lembaga pembiayaan, dan koperasi menurutnya mempunyai fungsi yang saling melengkapi agar ekosistem usaha dapat berjalan lebih kuat.
Dukungan serupa disampaikan Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Garut, drh. Dyah Savitri, M.A. Ia menekankan bahwa pengembangan Domba Garut melalui ICARE tidak boleh berhenti saat proyek selesai. Pendampingan produktivitas, penerapan teknologi tepat guna, penguatan kelembagaan koperasi, dan peningkatan nilai jual ternak menjadi pekerjaan yang perlu dilanjutkan.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Garut yang diwakili Kepala Bidang Kelembagaan, Amiati Khoeri, S.E., M.Ak., menempatkan koperasi sebagai basis penting bagi keberlanjutan usaha anggotanya.
“Mari kita jadikan koperasi sebagai rumah besar ekonomi petani. Kami mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama menjaga keberlanjutan ini,” ujarnya.
Dari Project Management Unit ICARE, Dr. Ir. Bram Kusbiantoro, M.S. menekankan perlunya menyiapkan keberlanjutan sejak program masih berjalan. “Saya pikir kita tidak akan berhenti di kegiatan sekarang. Tapi jelas kita ingin berkelanjutan,” katanya. Ia juga mendorong penyusunan exit strategy yang memungkinkan koperasi terus berkembang dengan dukungan pemerintah daerah, pelaku usaha, dan mitra lainnya setelah dukungan ICARE berakhir.
Arahan pada workshop disampaikan Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Prof. Hermansyah, yang menekankan posisi petani dan peternak sebagai pelaku utama dalam ekosistem tersebut.
“Petani, peternak. Ini aktor utama, bukan penerima manfaat,” tegasnya.
Prof. Hermansyah juga mendorong koperasi memperluas pemanfaatan teknologi digital, tidak hanya pada sisi produksi tetapi juga transaksi, pembayaran, pemasaran, dan distribusi. Ia menggambarkan peluang integrasi sistem koperasi dengan payment gateway, QRIS, layanan logistik, hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial dan Internet of Things (IoT). Dengan memanfaatkan infrastruktur digital yang telah tersedia, koperasi tidak harus membangun seluruh sistem sendiri untuk dapat memperluas jangkauan usahanya, termasuk ke pasar yang lebih luas.
Workshop dilanjutkan dengan pembahasan ekosistem pembiayaan bagi koperasi, produk halal untuk pasar global, progress report Komponen A.1.d, penyampaian rencana bisnis masing-masing koperasi, tanggapan mitra potensial, serta diskusi. Rangkaian tersebut diarahkan untuk mempertemukan kebutuhan koperasi dengan dukungan pemerintah dan peluang kerja sama dari sektor usaha.
Melalui penguatan kemitraan publik-swasta, BRMP Jawa Barat mendorong agar capaian ICARE di Kabupaten Garut tidak berhenti pada masa pelaksanaan program. Jejaring yang telah dibangun diharapkan menjadi fondasi bagi koperasi kentang dan Domba Garut untuk memperkuat proses bisnis, memperluas akses pasar, serta melanjutkan kolaborasi secara berkelanjutan setelah ICARE berakhir pada 2027.