Daya Tumbuh Kentang Demplot ICARE di Garut Capai 100 Persen, Begini Hasil Pemantauan di Lapangan
GARUT – Pengamatan tanaman kentang pada empat demplot percontohan Program Integrated Corporation of Agricultural Resources Empowerment (ICARE) di Kabupaten Garut menunjukkan tingkat daya tumbuh yang tinggi, yakni berkisar antara 99,68 hingga 100 persen. Hasil tersebut diperoleh melalui pemantauan lapangan yang dilaksanakan Tim ICARE Jawa Barat pada 3–4 November 2026 di Kecamatan Cigedug dan Sukaresmi.
Kegiatan ini dilakukan untuk mengevaluasi pertumbuhan dan perkembangan tanaman kentang varietas Chitra dan Granola sekaligus mengidentifikasi kondisi kesehatan tanaman. Sejumlah indikator yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, tingkat serangan penyakit, persentase tanaman mati atau layu, populasi, serta daya tumbuh tanaman.
*Pemantauan Pertumbuhan Kentang di Kecamatan Cigedug*
Di Kecamatan Cigedug, pengamatan dilakukan pada dua demplot kentang dengan luas masing-masing 5.000 meter persegi.
Demplot pertama berada di lahan milik Didik yang ditanami kentang varietas Chitra pada 16 September 2026. Saat pengamatan, tanaman berumur 48 hari setelah tanam (HST) dengan rata-rata tinggi mencapai 36,1 cm dan jumlah daun 14,3 helai per tanaman.
Hasil pemantauan mencatat daya tumbuh tanaman sebesar 99,68 persen. Sementara itu, tingkat serangan penyakit jamur teridentifikasi sebesar 2,7 persen dan persentase tanaman mati atau layu sebesar 0,63 persen.
Pengamatan berikutnya dilakukan pada demplot milik Rahman di Cirata, Desa Sukahurip, Kecamatan Cigedug. Lahan tersebut ditanami kentang varietas Granola pada 12 September 2026 dan telah mencapai umur 52 HST.
Pada lokasi ini, tinggi tanaman rata-rata tercatat 36,16 cm dengan jumlah daun 12 helai per tanaman. Daya tumbuh mencapai 99,86 persen, sedangkan tingkat serangan penyakit sebesar 2,5 persen dan persentase tanaman mati atau layu sebesar 3,01 persen.
Meskipun memiliki daya tumbuh yang tinggi, temuan penyakit serta tanaman mati atau layu menjadi perhatian dalam evaluasi pemeliharaan. Pemantauan lanjutan diperlukan untuk mengetahui perkembangan kondisi tanaman hingga memasuki fase pertumbuhan berikutnya.
*Demplot di Sukaresmi Catat Pertumbuhan Vegetatif yang Baik*
Pemantauan juga dilaksanakan pada demplot kentang milik H. Tarsa di Desa Mekarjaya, Kecamatan Sukaresmi. Lahan seluas 5.000 meter persegi tersebut ditanami varietas Granola pada 12 September 2026.
Pada umur 52 HST, tanaman menunjukkan rata-rata tinggi 76,23 cm dengan jumlah daun mencapai 16,56 helai per tanaman. Tingkat serangan penyakit dan persentase tanaman mati atau layu masing-masing tercatat sebesar 0,66 persen, sementara daya tumbuh mencapai 99,80 persen.
Hasil pengamatan tersebut memperlihatkan perkembangan vegetatif tanaman yang baik pada periode pemantauan. Meski demikian, perbedaan tinggi dan jumlah daun antarlokasi tetap perlu ditinjau bersama kondisi lahan dan praktik pemeliharaan sebelum digunakan untuk menarik kesimpulan mengenai penyebab perbedaan pertumbuhan.
*Daya Tumbuh 100 Persen pada Demplot Milik H. Iyep*
Hasil menarik lainnya diperoleh dari pengamatan pada demplot milik H. Iyep yang ditanami kentang varietas Granola pada 3 Oktober 2026.
Pada umur 31 HST, tanaman mencatat rata-rata tinggi 24,53 cm dengan jumlah daun 11,7 helai per tanaman. Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, tidak ditemukan serangan penyakit maupun tanaman mati atau layu pada periode pengamatan tersebut.
Daya tumbuh tanaman pada demplot seluas 5.000 meter persegi ini tercatat mencapai 100 persen. Angka tersebut menjadi capaian tertinggi dari empat demplot yang diamati Tim ICARE Jawa Barat.
*Hasil Pemantauan Menjadi Dasar Evaluasi Budidaya*
Secara keseluruhan, empat demplot yang diamati menunjukkan daya tumbuh berkisar antara 99,68 hingga 100 persen. Namun, hasil pengukuran juga memperlihatkan perbedaan tinggi tanaman, jumlah daun, dan tingkat serangan penyakit pada setiap lokasi.
Data tersebut menjadi bahan evaluasi untuk menentukan langkah pemeliharaan, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), serta penyempurnaan teknis budidaya kentang pada kegiatan berikutnya.
Pemantauan langsung di lahan petani juga memungkinkan tim memperoleh informasi mengenai kondisi aktual pertanaman, sehingga rekomendasi pemeliharaan dapat mempertimbangkan kebutuhan masing-masing demplot.
Hasil yang diperoleh saat ini masih menggambarkan kondisi pertumbuhan tanaman selama periode pengamatan, bukan hasil panen. Oleh karena itu, pengamatan lanjutan diperlukan untuk menilai perkembangan tanaman hingga akhir masa budidaya.
Melalui kegiatan pemantauan berkala, Program ICARE terus mengumpulkan data lapangan sebagai bahan pembelajaran dan evaluasi penerapan teknologi budidaya kentang di Kabupaten Garut.