Hadapi Mahalnya Benih Kentang, BRMP Jawa Barat Bekali Petani Pasirwangi Teknologi Stek Berakar
GARUT – Mahalnya benih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi petani kentang di Desa Sarimukti, Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut. Kondisi tersebut membuat sebagian petani memilih menggunakan kembali kentang berukuran kecil dari hasil panen sebelumnya sebagai benih untuk menekan biaya produksi.
Persoalan itu tercatat dalam penelitian Universitas Padjadjaran berjudul “Analisis Risiko Produksi Kentang di Desa Sarimukti Kecamatan Pasirwangi Kabupaten Garut” yang diterbitkan dalam Mimbar Agribisnis Volume 11 Nomor 1 pada Januari 2025. Penelitian tersebut menemukan bahwa sebagian besar petani di Desa Sarimukti menggunakan kentang berukuran kecil dari hasil panen sebelumnya, menyimpannya hingga bertunas, kemudian kembali menggunakannya sebagai benih hingga generasi keempat atau kelima. Alasannya antara lain untuk menekan biaya akibat tingginya harga benih kentang bersertifikat. Penelitian yang sama menempatkan penggunaan benih nonsertifikat sebagai salah satu sumber risiko prioritas dalam produksi kentang sayur di Sarimukti.
Besarnya komponen biaya benih juga tercatat dalam literatur teknis Kementerian Pertanian. Buku Model Perbanyakan Benih Kentang dengan Sistem Stek yang diterbitkan BPSIP Jawa Timur pada 2023 menyebut, dengan merujuk Singh dan Rana (2013), biaya benih kentang dapat mencapai 40–50 persen dari total biaya budidaya. Dokumen tersebut juga menyebut keterbatasan benih bermutu masih menjadi kendala pada tingkat petani sehingga diperlukan alternatif perbanyakan benih yang lebih cepat.
Di tengah persoalan tersebut, Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jawa Barat melalui kegiatan Kemitraan Kompetitif Program ICARE memberikan Bimbingan Teknis Teknologi Stek Berakar Kentang kepada 30 petani di Desa Sarimukti, Kecamatan Pasirwangi, Rabu (23/9/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula Desa Sarimukti tersebut tidak hanya diisi dengan penyampaian materi, tetapi juga praktik langsung teknologi stek berakar kentang.
Wawan Wahyudin dari BRMP Jawa Barat mendampingi peserta mempelajari tahapan produksi stek berakar kentang sesuai SNI 9215:2023. Melalui sesi praktik, petani memperoleh pengalaman langsung mengenai teknik yang dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam penyediaan bahan tanam kentang.
Pengenalan teknologi tersebut menjadi relevan bagi petani Sarimukti karena salah satu upaya menyediakan benih secara mandiri menghasilkan bahan tanam yang mutu dan kesehatannya terjamin.
Kepala Desa Sarimukti menyambut baik pelaksanaan bimbingan teknis tersebut dan berharap pendampingan kepada petani dapat terus berlanjut. Melalui praktik langsung teknologi stek berakar, petani diharapkan tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan mengenai perbenihan kentang, tetapi juga memiliki pilihan teknologi yang dapat dikembangkan sesuai kondisi usaha tani di Pasirwangi.