Rasakan Peningkatan Hasil dan Efisiensi, Petani Indramayu Siap Lanjutkan PM-AAS
Indramayu — Penerapan Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) mulai menunjukkan manfaat bagi petani di Desa Plosokerep, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu. Selain meningkatkan produktivitas, penggunaan teknologi budidaya membantu petani mengurangi kebutuhan tenaga kerja, mempercepat penanaman dan penyemprotan, serta mengatur penggunaan air di lahan.
Manfaat tersebut disampaikan oleh Supendi, Ade Sucipto, dan Rudi Antoni saat ditemui dalam kegiatan panen pada Selasa (15/9/2026). Ketiganya menerapkan sejumlah komponen PM-AAS, antara lain varietas unggul, tanam benih langsung menggunakan drum seeder, pupuk organik, herbisida pra-tumbuh, Pupuk Organik Cair (POC), silika, drone pertanian, serta irigasi berselang atau Alternate Wetting and Drying (AWD).
Berdasarkan data produktivitas yang telah dikonfirmasi petugas BPS Indramayu, lahan Supendi menghasilkan estimasi produktivitas 10,624 ton per hektar. Capaian tersebut diperoleh pada musim pertamanya menerapkan PM-AAS dengan varietas Inpari 32 dan sistem tabela. Supendi menilai hasilnya meningkat dibandingkan musim tanam sebelumnya. “Saya baru bisa berbicara sekarang karena sudah melihat hasilnya. Buktinya, saya menanam sendiri,” ujarnya.
Peningkatan juga dirasakan Ade Sucipto. Dibandingkan musim tanam sebelumnya dengan varietas yang sama, estimasi produktivitas di lahannya meningkat hampir 90 persen. Selain peningkatan hasil, Ade menilai sistem tanam yang diterapkan membuat biaya usaha tani lebih ringan. “Setelah mengenal PM-AAS, saya tetap tanam PM-AAS lagi seperti ini karena biayanya ringan,” kata Ade.
Sementara itu, produktivitas Inpari 32 di lahan Rudi Antoni meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan hasil yang biasa diperolehnya dari varietas tersebut. Rudi juga merasakan manfaat tabela dalam mengatasi keterbatasan tenaga tanam. “Setelah ikut PM-AAS mempelajari tabela, cukup dua orang untuk satu hektar. Tidak sampai setengah hari sudah selesai,” ungkapnya.
Penggunaan drone memberi keuntungan lain karena aplikasi herbisida pra-tumbuh, POC, dan silika dapat dilakukan lebih cepat dan merata. Herbisida pra-tumbuh digunakan untuk mengendalikan gulma sejak awal, sedangkan POC dan silika menjadi bagian dari perawatan tanaman. Petani juga menggunakan pupuk organik untuk memperbaiki kondisi tanah serta AWD untuk mengetahui waktu yang tepat dalam mengairi kembali lahan.
Pengalaman satu musim tanam tersebut membuat petani tidak hanya melihat PM-AAS dari hasil ubinan, tetapi juga dari kemudahan pekerjaan di lapangan. Teknologi yang digunakan membantu menjawab persoalan nyata petani, mulai dari sulitnya memperoleh tenaga tanam, lamanya penyemprotan, pengendalian gulma, hingga pengaturan air.
Supendi berharap petani lain tidak ragu mempelajari cara budidaya yang berbeda dari kebiasaan sebelumnya. “Untuk para petani, jangan takut mencoba. Yang penting dilakukan dengan sungguh-sungguh dan mengikuti tahapannya. Insyaallah akan ada hasilnya,” tuturnya.